Pages

Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts

Tuesday, December 4, 2012

Dari Sampah Jadi Nilai Tambah: Pengelolaan Sampah Mandiri Desa Sukunan Yogyakarta

Isu lingkungan, kerusakan, dan pengelolaanya menjadi isu utama beberapa dekade terakhir ini. Berbagai dampak yang terjadi dari adanya kerusakan lingkungan kian terasa; perubahan iklim, memanasnya suhu permukaan bumi, hingga berbagai bencana alam lainya. Negara di dunia juga sudah mencoba mengatasi berbagai kerusakan lingkungan dengan bermacam cara, salah satunya adalah dengan mengadakan Earth Summit di Rio De Janeiro pada tahun 1992. Manifesto dari pertemuan tersebut adalah terbentuknya Agenda 21 yang mewajibkan masing-masing Negara merumuskan kebijakan strategis nasional dalam menerapkan pembangunan berkelanjutan.

Indonesia sendiri telah merumuskan Agenda 21 yang telah disesuaikan dalam konteks nasional dan dikelompokan menjadi empat area, salah satunya adalah pengelolaan limbah. Agenda ini dirumuskan terutama dengan sasaran untuk memperbaiki kondisi dan kualitas lingkungan hidup manusia serta mengungari proses degradasi lingkungan (Setiawan, 2007). Pada dasarnya dalam pengelolaan limbah, terdapat berbagai macam cara baik itu pengelolaan dengan menggunakan teknologi tinggi, ataupun pengelolaan dengan cara sederhana. Masyarakat di Indonesia sendiri sudah banyak mempraktekan berbagai macam cara pengelolaan limbah dengan menggunakan cara-cara sederhana.

Limbah anorganik adalah limbah yang berasal bukan dari makhluk hidup. Limbah anorganik ini memerlukan waktu yang lama atau bahkan tidak dapat terdegradasi secara alami. Beberapa limbah anorganik diantaranya kain, plastik, kaleng, dan bahan gelas atau beling. Salah satu pemanfaatan limbah anorganik adalah dengan cara proses daur ulang (recycle). Daur ulang merupakan upaya untuk mengolah barang atau benda yang sudah tidak dipakai agar dapat dipakai kembali. Beberapa limbah anorganik yang dapat dimanfaatkan melalui proses daur ulang, misalnya plastik, gelas, logam, dan kertas.

Sampah anorganik adalah jenis sampah yang sulit untuk didaur ulang secara alami di dalam tanah. Oleh karena itu, resiko sampah plastik untuk dibuang secara sembarangan lebih besar dibanding sampah organik yang dapat terurai oleh tanah. Di sisi lain, pengepul sampah hanya membeli sampah plastik yang tidak berwarna atau polos. Sampah-sampah jenis ini kemudian hanya berakhir sebagai limbah yang kebanyakan cara penyelesaiannya adalah dengan cara dikubur. Padahal, sampah plastik yang dikubur didalam tanah tidak akan terurai hingga lebih dari 200 tahun.

Permasalahan sampah plastik berwarna dan kain ini disikapi oleh masyarakat Desa Sukunan Yogyakarta dengan mengelola sampah plastik dan kain menjadi berbagai kerajinan. Pengelolaan ini dilakukan sendiri oleh masyarakat atau dikenal dengan istilah pemberdayaan masyarakat. Adalah sebuah pendekatan pembangunan yang membuat masyarakat menjadi titik utama pelaku pembangunan. Segala rumusan kebutuhan, rencana, hingga implementasi kegiatan dibuat oleh, dari, dan untuk masyarakat itu sendiri. Dengan tujuan agar target dan sasaran kegiatan pembangunan bisa mengena dengan tepat dan berdampak langsung dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Ife, 2005). Dan pemberdayaan masyarakat ini sudah sangat terasa bagi masyarakat Desa Sukunan dampak dan manfaatnya. Berikut adalah beberapa kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sukunan dan bisa contoh yang sangat baik bagi kita semua.

Kerajinan Sampah Plastik

Dalam kasus desa Sukunan, sampah plastik diubah menjadi barang-barang kreatif seperti tas belanja, penutup magic jar, dompet dan lainya. Dengan pemilihan sampah-sampah plastik sisa minuman berenergi atau minuman anak yang memiliki warna menarik, ibu-ibu menyulap sampah-sampah plastik tersebut menjadi barang-barang lucu yang dapat dijual. Harga yang dipasarkanpun tidak mahal, hanya berkisar 10.000-100.000 rupiah. Bergantung pada tingkat kerumitan dan besaran barang tersebut. Ternyata tidak hanya berproduksi secara komersil, Ibu-Ibu pengrajin juga bersedia memberikan pelatihan-pelatihan pengelolaan sampah plastik tersebut kepada para wisatawan yang datang. Sebuah alternatif bagi wisatawan untuk dapat mulai berpikir kreatif dengan mengubah sesuatu yang tiada harganya menjadi sesuatu yang bernilai jual.
 

Sumber: Sukunan.com diakses November 2011

Cara membuat kerajinan-kerajinan tersebut adalah sebagai berikut. Sampah-sampah plastik tersebut dengan teliti dipilih sesuai dengan kelayakanya. Setelah terpilah sampah plastik mana yang akan digunakan sebagai bahan dasar kerajinan, lalu para  ibu kembali menyeleksi sampah-sampah plastik sesuai dengan model yang akan dibuat. Menentukan model dan ukuran dari kerajinan dan bahan yang akan digunakan sangatlah penting agar tidak terjadi kesalahan dalam pembuatan. Setelah siap, sampah-sampah plastik tersebut dijahit untuk dirangkai sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Ketelitian dan keterampilan juga diperlukan dalam membuat kerajinan dari sampah plastik ini walaupun cara pembuatanya tidak sesulit pembuatan kerajinan dari daun kering ataupun bahan-bahan organik lain.

Memanfaatkan Kain Perca

Selain mengelola limbah atau sampah plastic, masyarakat Desa Sukunan juga dengan kreatif menggunakan ketrampilan mereka untuk membuat kerajinan dari kain perca atau kain sisa. Dengan motif yang beraneka ragam, memang pemanfaatan kain perca sangatlah sulit karena itu banyak kain sisa yang akhirnya tidak digunakan untuk apapun. Namun di tangan masyarakat Sukunan, kain-kain perca bisa kembali diubah menjadi sesuatu yang unik dan menarik seperti tas, tempat botol, sarung bantal, dompet, dan lainya. Harga yang ditawarkan pun tidak tinggi, hanya berkisar rp 5.000- rp 20.000.

Nilai seni yang diberikan oleh kerajinan kain perca dapat dilihat pada pemilihan motif yang berbeda-beda pada kain, namun bisa disinergikan sehingga membentuk barang yang terlihat seperti baru. Penggunaan kain perca bermotif batik juga digunakan untuk memperlihatkan kesan etnik jawa dan memberikan identitas local pada barang-barang kerajinan ini.

  Sumber: dokumentasi penulis, 2012

Hal yang pertama kali harus dilakukan untuk membuat kerajinan kain perca ini tentu saja mengumpulkan sisa-sisa kain baik itu sisa kain rumah tangga ataupun dari perusahaan konveksi. Setelah itu kain perca diseleksi sesuai dengan ukuran dan motif yang diinginkan. Barulah kain-kain itu nantinya dirangkai dengan cara dijahit hingga membentuk benda-benda yang diinginkan semisal tas, dompet, atau lainya.

Wisata Edukasi Lingkungan

Memang di Sukunan ini tidak hanya terkenal dari hasil produksi barang daur ulang, tetapi juga terkenal karena Wisata Edukasi yang bertemakan lingkungan atau Ecotourism. Wisata edukasi mengenai sistem pengolahan sampah di Desa Sukunan ini dapat menjadi pembelajaran bersama bagi masyarakat luas. Wisatawan akan diajak berkeliling desa untuk melihat lebih dekat sistem pengolahan sampah Desa Sukunan. Wisatawan akan ditunjukkan bagaimana aktivitas rumah tangga di Desa Sukunan sudah mulai biasa untuk memilah-milah sampah antara sampah organik dan anorganik. Ketika keliling desa, wisatawan akan melihat ketersediaan tong-tong penampungan sampah di setiap sudut gang yang telah dikategorikan dalam 3 jenis sampah yang kini juga telah banyak digunakan masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Selain itu, jalanan di Desa Sukunan juga terlihat bersih dari sampah karena terciptanya kesadaran masyarakat Sukunan untuk membuang sampah berdasarkan jenis dan pada tempatnya.

Sumber: dokumentasi penulis, 2012 

Dampak dan Manfaat

Pengelolaan sampah secara mandiri yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sukunan memberikan beberapa manfaat antara lain:

1. Meningkatnya nilai-nilai sosial
Meningkatknya nilai-nilai social ditandai dengan meningkatnya nilai-nilai pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan tentunya menjadi sebuah tujuan utama adanya pengelolaan sampah secara mandiri. Masyarakat akan dilatih untuk menentukan program-program rencana kegiatan bagi pembangunan di desanya tanpa ketergantungan dari pihak-pihak lain. Adanya kemandirian tersebut membuat masyarakat lebih memahami apa yang mereka butuhkan dan bersama-sama memikirkan apa yang akan mereka lakukan untuk membangun desa tempat tinggal mereka agar selalu bersih dan ramah lingkungan.

2. Meningkatnya nilai-nilai ekonomi
Sampah-sampah yang sudah didaur ulang oleh masyarakat menjadi berbagai kerajinan bisa dijual dan tentunya akan memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat Desa Sukunan. Walaupun jumlah keuntungan dari penjualan barang daur ulang tersebut tidak signifikan, setidaknya itu dapat terus momotivasi masyarakat untuk berkreasi dan peduli dengan lingkunganya. Wisata edukasi yang masyarakat Desa Sukunan tawarkan pada wisatawan pun menjadi sebuah pendapatan tambahan bagi masyarakat. Nama Desa Sukunan akan terus dikenal dan akan selalu mengundang wisatawan untuk datang menikmati sajian wisata edukasi bertema ekologi.

3. Meningkatnya nilai-nilai ekologi
Sumbangan terbesar yang bisa diberikan oleh masyarakat Desa Sukunan adalah peningkatan nilai-nilai ekologi di kawasan tersebut. Konsensus yang telah dibentuk oleh masyarakat memberikan sebuah pola hidup ramah lingkungan dengan cara peduli dan mau secara langsung terlibat dalam aksi-aksi pengelolaan limbah.  Masyarakat Desa Sukunan dengan nyata memberikan contoh bahwa limbah-limbah anorganik yang dikatakan sebagai limbah yang tidak dapat di daur ulang secara alami ternyata bisa dimanfaatkan sebagai sebuah kerajinan. Kegiatan ini membuat sampah-sampah di lingkungan sekitar Desa Sukunan berkurang dan pencemaran lingkungan pun bisa minimalisir.

Masyarakat Desa Sukunan Yogyakarta telah memberikan contoh gaya hidup modern yang sesungguhnya. Yaitu gaya hidup yang peduli dengan lingkungan, gaya hidup yang menjaga keberlanjutan lingkungan, gaya hidup yang secara nyata beraksi bagi lingkungan. Sebuah contoh yang patut ditiru dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai masyarakat modern. Sudah saatnya melakukan aksi. Think Globally, Act Locally!

Monday, May 9, 2011

Wisata Militer

Perjalanan dimulai pukul tujuh pagi. Menggunakan kereta sancaka dari stasiun Tugu Yogyakarta. Lama waktu perjalanan sekitar lima setengah jam. Melalui beberapa stasiun kota-kota besar Jawa Timur seperti Madiun dan Jombang. Sesampai disana, saya dijemput oleh seorang kakak sepupu yang sudah beberapa tahun tidak bertemu. Beliau seorang TNI-AL. Sudah beberapa tahun ini dipindahkan ke Surabaya setelah belasan tahun mengabdi di Balikpapan. Rencananya kami akan menginap dirumahnya, Sidoarjo. Namun sebelum berangkat menuju Sidoajo kami diajak untuk berkeliling di kantornya. Markas Komando TNI AL Kawasan Timur. Yang terletak di Surabaya bagian utara. Tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Perak.

Gerbang Markas yang dibentuk bagaikan kapal perang dengan tulisan yang besar sempat membuat kami menebak-nebak isi dari markas para prajurit laut ini. Berita tentang pengiriman dua buah kapal perang TNI-AL untuk melawan perompak Somalia semakin membuat saya penasaran tentang 'rahasia' militer laut Indonesia. Penjagaan untuk bisa masuk ke dalam markas sangat ketat. Tiga lapis pemeriksaan diberlakukan. Hingga akhirnya kami sampai di pelabuhan militer.

Mata kami langsung tertuju pada sebongkah besi besar berwarna hitam yang mengapung. Benar, itulah kapal selam milik TNI-AL kita. Bendera merah putih berkibar di atasnya, menambah kegagahan si besi hitam yang telah mengarungi lautan Indonesia demi menjaga keamaan negri ini. Membayangkan rasanya hidup di kedalaman air, beratus-ratus meter menjauhi daratan. Tak jauh, terdapat tiga buah kapal penyapu ranjau. Kecil, tidak sebesar kapal-kapal perang lain. Namun terlihat begitu rumit teknologi di dalamnya. Semakin kami menuju ke arah pelabuhan, puluhan atau mungkin ratusan kapal laut bersender di pelabuhan militer. Menakjubkan. Inilah Markas Komando TNI-AL Kawasan Timur yang terkenal itu.

Kembali, sebuah kapal dengan tiga tiang layar besar menarik perhatian kami. Dewaruci, kapal layar terbesar milik TNI-AL. Kapal latih bagi taruna akademi angkatan laut. Kapal yang menjadi kebanggaan Indonesia. Berdasarkan wikipedia, Kapal Dewaruci berukuran 58,5 meter dan lebar 9,5 meter dibangun oleh H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman. Tiga tiang besar yang kami lihat ternyata memiliki nama yaitu tiang Bima, Yudhistira dan Arjuna. Juga terapat 16 tiang-tiang kecil. Setiap tahunya kapal ini dikirim untuk mengelilingi Indonesia dan dunia bersama kadet-kadet AAL, pelatihan itu disebut Kartika Jala Krida. Beruntung kami bisa melihat Kapal Layar Dewaruci secara langsung. Bukti kejayaan negri maritim. Semoga saja dengan kekayaan militer TNI-AL sekarang, keamanan dan kedaulatan Laut Indonesia terjaga dengan sebaik mungkin. "Jalesveva Jayamahe" Jayalah TNI-AL Indonesia.

Pandega Wiratama, 10 Mei 2011